Beranda / MUSIK, ART, CULTURE / Rampak Naong x Gugun: Saat Rock n’ Roll Ketemu Blues

Rampak Naong x Gugun: Saat Rock n’ Roll Ketemu Blues

Rampak Naong adalah band rock asal Depok yang pernah mencuri perhatian publik musik Indonesia pada awal era 2000-an yang sejatinya lebih ke rock n’ roll. Digawangi Soul (vokal), Aries (gitar), Aldrin (bass), dan Seze (drum), band ini dikenal lewat karakter musik yang lugas, energi panggung kuat, serta sejumlah lagu yang sempat menghiasi layar televisi dan gelombang radio nasional.

Pada masa awal kemunculannya, Rampak Naong menjadi bagian dari denyut musik rock Indonesia yang tengah tumbuh subur. Album pertama mereka berhasil memperkenalkan identitas band dengan warna rock yang khas dan mudah diterima pendengar. Namun, perjalanan tersebut tidak sepenuhnya mulus.

Memasuki fase berikutnya, dinamika internal band mulai diuji. Pergantian personel terjadi ketika Aris, gitaris sekaligus pencipta lagu utama, memutuskan mundur dan posisinya digantikan oleh Ferry. Perubahan ini mewarnai proses kreatif album kedua bertajuk Soul n Traffix (2011). Sayangnya, album tersebut belum sempat dirilis secara resmi, sehingga menjadi salah satu karya “tertunda” dalam perjalanan Rampak Naong.

Setelah itu, band ini memasuki masa hiatus panjang. Kondisi semakin berat dengan kepergian dua sosok penting. Ferry wafat pada 2019, disusul Aries pada 2024. Kehilangan tersebut bukan hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga membuat perjalanan Rampak Naong seolah terhenti di persimpangan waktu.

Namun, semangat Rampak Naong tidak sepenuhnya padam. Kebangkitan band ini justru berawal dari dorongan personal dan emosional. Tommy Exentrix, adik kandung Aries, merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menghidupkan kembali karya dan semangat sang kakak. Bagi Tommy, lagu-lagu Rampak Naong bukan sekadar arsip masa lalu, melainkan warisan musikal yang layak terus hidup dan didengar lintas generasi.

Tommy kemudian mengajak Seze dan Aldrin, dua personel yang masih tersisa, untuk kembali membuka lembaran lama Rampak Naong. Bukan dengan nostalgia semata, melainkan dengan pendekatan baru yang lebih relevan dengan perkembangan musik saat ini. Ide awalnya sederhana namun bermakna: merilis ulang lagu-lagu lama Rampak Naong dengan kemasan yang lebih segar.

Dari diskusi tersebut, muncul gagasan kolaborasi lintas generasi. Atas ide Seze, nama Gugun dari Gugun Blues Shelter diajak bergabung untuk mengisi gitar sekaligus memberi warna musikal baru. Pilihan ini menjadi titik penting dalam proses kebangkitan Rampak Naong, karena menghadirkan karakter blues yang kuat dan matang.

Kolaborasi ini kemudian dikemas dalam proyek Rampak Naong x Gugun Blues Shelter x Tommy Exentrix. Dua lagu dari album pertama dipilih untuk diaransemen ulang, yakni “Tergoda” dan “Cuma..cuma..cuma..”. Keduanya diolah ulang dengan sentuhan blues rock modern, memadukan energi rock khas Rampak Naong dengan nuansa blues yang lebih dalam dan emosional.

Melalui proyek ini, Rampak Naong tidak sekadar “kembali”, tetapi juga berevolusi. Lagu-lagu lama diberi napas baru, tanpa menghilangkan ruh aslinya. Kebangkitan ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan, persahabatan, dan dedikasi para personel yang telah pergi.

Rampak Naong hari ini hadir sebagai simbol bahwa musik tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu waktu, tangan, dan hati yang tepat untuk kembali berbunyi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page