PUBLIK LITERAL, Tubaba – Jika angka tidak bisa berbohong, maka proyek Peningkatan Ruas Jalan Mekar Asri – Wonokerto – SP Tiuh Toho (008) layak dipertanyakan. Dengan nilai anggaran Rp2,4 miliar dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) tahun anggaran 2025, publik dihadapkan pada satu kenyataan di lapangan: aspal yang terhampar hanya setebal 1–2 sentimeter.
Dilansir dari SINARLAMPUNG.co, Proyek yang dikerjakan CV Ratu Anindiya Karya ini sejak awal pelaksanaan telah menuai sorotan. Bukan semata karena nilainya besar, tetapi karena standar yang tampak mengecil seiring pekerjaan berjalan.
Menang Tender Tipis, Kewajiban Menghilang
Dengan nilai penawaran Rp2.447.164.659—turun tipis sekitar 2,1 persen dari Harga Perkiraan Sendiri (HPS)—rekanan seharusnya bekerja ekstra hati-hati menjaga kualitas. Namun yang ditemukan di lapangan justru sebaliknya.
Direksi Keet tidak ada. Papan imbauan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tak terlihat. Tenaga ahli K3 pun absen. Padahal seluruhnya merupakan kewajiban dasar kontrak, bukan fasilitas tambahan.
Ironisnya, proyek bernilai miliaran rupiah ini tetap berjalan, seolah keberadaan dokumen dan pengawasan cukup dilakukan di atas meja.
Alat Negara Turun ke Proyek Swasta
Sorotan lain muncul dari penggunaan alat berat. Asphalt Finisher dan Pneumatic Tire Roller (PTR) yang digunakan di lokasi diduga milik Dinas PUPR Tubaba. Fakta ini memunculkan spekulasi publik, sebab alat milik negara terlihat aktif bekerja dalam proyek yang secara kontraktual menjadi tanggung jawab penuh rekanan.
PPTK proyek, Rido, memang menyatakan bahwa alat tersebut disewa. Namun pertanyaan publik tidak berhenti pada “disewa atau tidak”, melainkan pada batas kewajaran relasi antara penyedia jasa dan pemilik anggaran.
Aspal Mahal, Tebal Tak Sampai Janji
Masalah paling serius justru terletak pada hasil pekerjaan. Pada lapisan penetrasi (Lapen), ketebalan yang ditemukan di lapangan hanya berkisar 1–2 sentimeter. Angka ini jauh dari spesifikasi kontrak yang mensyaratkan ketebalan 5 sentimeter setelah pemadatan.
Pada pekerjaan hotmix, kondisinya tak kalah memprihatinkan. Permukaan jalan tampak bergelombang dengan ketebalan bervariasi antara 2 hingga 5 sentimeter, padahal standar teknis menetapkan ketebalan 6 sentimeter.
Artinya, dari Lapen hingga hotmix, standar teknis menyusut secara konsisten—sementara nilai proyek tetap utuh.
Aspal Digelar Saat Hujan Baru Pergi
Belum cukup sampai di situ, proses pengaspalan juga dilakukan saat cuaca mendung dan badan jalan masih lembab pasca hujan. Dalam kondisi seperti ini, suhu aspal berisiko turun di bawah standar ideal 130–150 derajat Celsius.
Dampaknya bukan sekadar estetika, melainkan ketahanan jalan. Aspal berpotensi cepat rapuh, mudah terkelupas, dan berumur pendek. Jalan memang terlihat selesai, tetapi kualitasnya sejak awal sudah dipertaruhkan.
Pengawas Tahu, Tapi Diam
Konsultan Pengawas, Rohim, saat dikonfirmasi pada Sabtu (20/12/2025), mengakui bahwa ketebalan lapen idealnya memang 5 sentimeter. Namun ketika dihadapkan pada temuan lapangan yang hanya 1–2 sentimeter, ia memilih menahan komentar.
“Nanti nunggu rekanan saja, jangan saya sendirian. Intinya nanti kita lapor ke pihak mereka (PUPR),” ujarnya.
Pengakuan tanpa tindak lanjut ini justru menimbulkan pertanyaan: jika pengawas mengetahui penyimpangan, lalu siapa yang seharusnya bertindak?
PPTK: Wajib Ada Direksi Keet
PPTK proyek, Rido, menegaskan bahwa Direksi Keet bersifat wajib dan konsultan pengawas tidak boleh lepas tangan.
“Wajib ada direksi keet. Kalau alat berat, memang dari PU tapi mereka sewa,” ujarnya pada Jumat (26/12/2025).
Pernyataan ini memperjelas satu hal: secara aturan, proyek ini seharusnya berjalan dengan standar dan pengawasan penuh. Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Bidang Bina Marga PUPR Tubaba belum memberikan keterangan resmi karena dilaporkan sedang dinas luar.
Sementara itu, aspal setebal 2 sentimeter sudah terlanjur terhampar. Rp2,4 miliar sudah dialokasikan. Dan publik kini bertanya:
apakah proyek ini akan dikoreksi sesuai kontrak, atau dibiarkan menjadi contoh lain bagaimana angka besar bisa berakhir pada kualitas yang sangat tipis.






